Semangat Warga Ngalangan Bersinar di Tengah Hujan pada Evaluasi Proklim Sleman 2026
- May 20, 2026
- Andy Ahmad Akbar Zulfikar
- Daerah
SLEMAN — Meski diguyur hujan, semangat warga Padukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, tidak surut dalam menyambut tim juri Evaluasi Program Komunitas Untuk Iklim (Proklim) Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2026, Selasa (19/5/2026). Antusiasme masyarakat tampak dalam berbagai kegiatan dan potensi lingkungan yang ditampilkan sepanjang penilaian berlangsung.
Kepala Dukuh Ngalangan, Indra Gunawan, memaparkan beragam program unggulan di hadapan tim juri yang terdiri dari unsur Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Bappeda, serta Yayasan OISCA.
Dalam pemaparannya, Indra menjelaskan berbagai upaya masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim melalui program adaptasi dan mitigasi lingkungan, penguatan kelompok masyarakat, hingga dukungan kegiatan berkelanjutan berbasis partisipasi warga.
Rangkaian penilaian diawali di Dusun Ngalangan. Tim juri diajak melihat berbagai potensi lingkungan seperti bank sampah, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta program pemanfaatan pekarangan rumah yang produktif dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan jeep menuju kawasan Belik Gayam. Di lokasi tersebut, warga memanfaatkan sumber mata air sebagai kolam ikan yang mendukung ketahanan pangan masyarakat. Selain itu, warga juga memperlihatkan pemanfaatan energi baru terbarukan dan konservasi energi, seperti penggunaan panel surya serta kincir air untuk mendukung kebutuhan listrik dan penghematan energi.
Perjalanan berlanjut ke Dusun Rejosari yang menyambut rombongan dengan hangat. Kreativitas ibu-ibu PKK menjadi salah satu daya tarik dalam penilaian tersebut, menunjukkan kuatnya keterlibatan masyarakat dalam mendukung program lingkungan berbasis gotong royong.
Sementara itu, di Dusun Baransari, warga menampilkan inovasi pengelolaan lingkungan melalui teknologi Teba Modern berupa sumur sampah organik yang dimanfaatkan menjadi pupuk. Pengolahan sampah rumah tangga terintegrasi menggunakan alat insinerator juga menjadi perhatian tim juri.
Tidak hanya potensi lingkungan, masyarakat Baransari turut menampilkan kekayaan budaya lokal berupa pembuatan wayang kulit dan pertunjukan karawitan yang menjadi bagian dari penguatan sosial budaya masyarakat dalam mendukung keberlanjutan kampung iklim.
Rangkaian evaluasi ditutup di kawasan Sumber Mata Air Belik Slamet, Baransari. Di lokasi tersebut, tim juri menyaksikan langsung upaya warga dalam menjaga kelestarian sumber mata air, termasuk pemanfaatan kincir air sebagai sumber listrik penerangan di sekitar kawasan belik.
Sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan ekosistem, para juri bersama warga melakukan penebaran bibit ikan nilem serta penanaman pohon pule.
Evaluasi Program Komunitas Untuk Iklim ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi masyarakat dalam menjaga lingkungan dapat diwujudkan melalui aksi sederhana namun berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. (Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK)