Outing Class PAUD Pencarsari: Belajar Langsung di Museum Gunung Merapi
- Sep 19, 2025
- Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK
- Hiburan
Sleman, 19 September 2025 – Sebanyak 36 anak dari PAUD Pencarsari Sardonoharjo Ngaglik Sleman mengikuti kegiatan outing class di Museum Gunung Merapi, Sleman, pada Jumat (19/9). Kegiatan ini digelar untuk memberikan pengalaman belajar nyata kepada anak-anak terkait lingkungan alam, khususnya fenomena gunung api dan kebencanaan.
Kepala PAUD Pencarsari, Suharini, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi Museum Gunung Merapi sejalan dengan tema pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. “Lingkungan kita dekat dengan Gunung Merapi, sehingga sangat tepat bagi anak-anak untuk belajar secara langsung. Mereka bisa melihat dan merasakan bagaimana kondisi gunung, bahkan simulasi gempa, agar pemahaman tidak hanya didapat dari buku atau layar,” ujarnya.

Suharini menambahkan, perkembangan teknologi saat ini membuat anak-anak lebih sering bersentuhan dengan gawai dan televisi. Menurutnya, kondisi itu membuat anak perlu diperkenalkan pada pengalaman nyata di lapangan. “Anak-anak sekarang berbeda dengan zaman kita dulu. Karena sering melihat gadget, mereka butuh contoh nyata—seperti ini lho gunung, seperti ini lho rasanya gempa. Dengan begitu mereka bisa mengerti lebih dalam,” katanya.
Melalui kunjungan edukatif tersebut, pihak sekolah berharap para peserta didik mampu memahami lingkungan sekitarnya, termasuk potensi bahaya dan manfaat dari aktivitas vulkanik Gunung Merapi. “Harapannya anak lebih paham dan mengerti tentang lingkungannya, sehingga mereka juga mengenal apa itu erupsi,” tutur Suharini.
Kegiatan outing class ini berlangsung interaktif dengan pendampingan guru serta edukator museum. Anak-anak diajak menjelajahi koleksi yang menampilkan sejarah erupsi Merapi, simulasi bencana, hingga dokumentasi dampak letusan. Suasana belajar yang menyenangkan membuat anak-anak antusias bertanya dan berinteraksi langsung dengan materi yang ditampilkan.

Dengan kegiatan ini, PAUD Pencarsari menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual sesuai dengan lingkungan sekitar, sekaligus menanamkan kesadaran kebencanaan sejak dini.