Outing Class MI Ma’arif Bego Kenalkan Manfaat Air Hujan sebagai Sumber Kehidupan

  • Feb 06, 2026
  • Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK

SLEMAN — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Bego, Sambego, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar kegiatan outing class edukatif di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya pengelolaan air hujan sebagai sumber kehidupan yang bernilai maslahat bagi manusia dan lingkungan.

Sebanyak 77 siswa kelas IV mengikuti pembelajaran luar kelas tersebut dengan pendampingan guru dan wali murid. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa air hujan merupakan karunia Allah SWT yang melimpah, bersih, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan jika dikelola dengan benar.

Guru MI Ma’arif Bego, Suparti, dalam sambutan pengantar menyampaikan bahwa pengenalan pengelolaan air hujan sejak dini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk menghargai nikmat air serta tidak bersikap boros dalam penggunaannya.

“Air hujan bukan sekadar turun lalu terbuang. Jika dikelola dengan baik, air hujan dapat menjadi solusi untuk kebutuhan air bersih, sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah,” ujarnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari OISCA (Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement) International, organisasi nirlaba asal Jepang yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan. Dukungan tersebut diwakili oleh Nur Partiningsih, yang selama ini aktif mendampingi berbagai program edukasi lingkungan berbasis masyarakat.

Rombongan siswa diterima langsung oleh pengelola Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, yang juga menjadi pemateri. Ia menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air dari langit yang kualitasnya sangat baik dan potensinya besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini air hujan sering diabaikan, padahal semua orang bisa mengaksesnya secara gratis. Pemanfaatan air hujan dapat mengurangi eksploitasi air tanah yang berlebihan, menekan risiko krisis air, serta menjadi bagian dari upaya mengurangi bencana hidrometeorologi. Yang terpenting, ini adalah wujud rasa syukur kita atas anugerah Allah yang luar biasa,” kata Bu Ning.

Dalam sesi praktik, para siswa diajak mengukur kualitas air menggunakan alat TDS tester. Hasilnya menunjukkan air hujan yang dikelola dengan teknologi ISLAH di Banyu Bening memiliki tingkat Total Dissolved Solids (TDS) sekitar 7 ppm. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan air minum kemasan yang umum dikonsumsi, dengan kisaran 98–294 ppm. Sementara air hujan yang dibawa siswa dari rumah menunjukkan TDS sekitar 20–22 ppm.

Para siswa juga diajak meminum air hujan sebagai bagian dari pembiasaan, untuk mengenalkan bahwa air hujan aman dan layak dikonsumsi jika dikelola dengan tepat. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan antusiasme siswa dalam memahami manfaat air hujan bagi kehidupan.

Melalui outing class ini, MI Ma’arif Bego berharap para siswa tumbuh menjadi generasi yang peduli lingkungan, bijak memanfaatkan sumber daya alam, serta senantiasa mensyukuri nikmat air sebagai karunia Tuhan yang harus dijaga bersama.