Meneladani Oerip Soemohardjo, BUMDes Sardonoharjo Tumbuh Jadi Percontohan
- Jan 20, 2026
- (Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK)
Sleman – Di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak hanya tumbuh sebagai pengelola unit usaha desa, tetapi juga menjelma menjadi simbol keseriusan dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. BUMDes Oerip Soemohardjo hadir sebagai entitas strategis yang dikelola secara profesional, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang.
Nama Oerip Soemohardjo bukan sekadar identitas kelembagaan. Nama tersebut diambil dari Pahlawan Nasional Jenderal Urip Sumohardjo, sosok yang dikenal menjunjung tinggi nilai profesionalisme, integritas, dan loyalitas terhadap bangsa. Nilai-nilai inilah yang menjadi roh dalam tata kelola BUMDes, sekaligus mencerminkan semangat membangun desa yang kuat dan mandiri.
Di bawah kepemimpinan Direktur Cahyo Binarto, BUMDes Oerip Soemohardjo mengembangkan berbagai unit usaha berbasis potensi desa. Salah satu unit unggulan adalah Halo Bumdes Farm, yang bergerak di sektor pangan. Unit usaha ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga berkembang sebagai ruang pembelajaran dan inovasi. Bahkan, Halo Bumdes Farm kerap menjadi rujukan studi banding bagi BUMDes lain, termasuk dari luar Pulau Jawa.
Kinerja BUMDes tersebut turut ditopang oleh struktur pengelolaan yang solid. Pengelolaan operasional didukung oleh Muhammad Nasihudin selaku Sekretaris, Darlina Prihatmanti sebagai Bendahara, dan Andy Ahmad Akbar sebagai Manajer. Sementara fungsi pengawasan dijalankan oleh Sigit Triyana, Wasingatu Zakiyah, dan Farid Hadi Rahman, yang memastikan tata kelola berjalan secara akuntabel dan transparan.
Pada Selasa, 20 Januari 2026, aktivitas di BUMDes Oerip Soemohardjo tampak lebih padat dari biasanya. Sejak pagi, jajaran pengurus BUMDes, pamong kalurahan, pendamping desa, hingga tamu undangan bersiap menyambut kedatangan Tim Monitoring dan Evaluasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Siska Wulandari.
Monitoring dan evaluasi ini merupakan bagian dari agenda penilaian kinerja BUMDes sekaligus identifikasi tantangan dan peluang pengembangan ke depan. Kegiatan ini menjadi krusial mengingat pada tahun 2025 seluruh BUMDes menerima penyertaan modal sebesar 20 persen dari Dana Desa, kebijakan yang menuntut kesiapan kelembagaan serta kesesuaian program dengan arah pembangunan nasional, khususnya Asta Cita Pemerintah dalam membangun Indonesia dari desa.
Dalam paparannya, Direktur BUMDes menyampaikan bahwa pada tahun 2026 BUMDes Oerip Soemohardjo menerima penyertaan modal sebesar Rp405.620.000. Dana tersebut direncanakan untuk memperkuat sektor peternakan, perikanan, dan pertanian, tiga sektor strategis dalam mendukung ketahanan pangan desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Siska Wulandari dalam arahannya menegaskan bahwa BUMDes tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memiliki peran strategis dalam meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). Profesionalisme pengelolaan dan ketepatan dalam memilih unit usaha dinilai menjadi kunci agar BUMDes mampu berkontribusi nyata bagi keuangan desa.
Sementara itu, Agung Margandhi menyoroti pentingnya penerapan tata kelola keuangan yang mengacu pada Standar Akuntansi, sehingga laporan keuangan dapat tersaji secara real time. Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap BUMDes sebagai lembaga ekonomi desa.
Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut menjadi ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah daerah, pendamping, dan pengelola BUMDes. Lebih dari sekadar penilaian, kegiatan ini memperkuat komitmen bersama agar BUMDes Oerip Soemohardjo terus melangkah sebagai contoh praktik baik pengelolaan usaha desa di Kabupaten Sleman—sebuah ikhtiar nyata membangun ekonomi lokal dari desa, oleh desa, dan untuk desa.