Kolaborasi Kemenparekraf RI dengan Duta Santri Nasional: Membangun Generasi Santri yang Unggul dalam Ekonomi Digital.

  • Jul 20, 2024
  • Eka Sastra

Sleman - Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Sleman menjadi tuan rumah kegiatan Santri Digitalpreneur Indonesia di Yogyakarta yang berlangsung pada 18 hingga 21 Juli 2024. Kegiatan ini diinisasi oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang diikuti oleh sepuluh pondok pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya.

Kesepuluh pondok pesantren tersebut yaitu Madrasah Mu’allimin-Mua’allimat Muhammadiyah, Pondok Pesantren Al Mumtaz Gunungkidul, Pondok Pesantren Assalafiyyah 2 Mlangi, Pondok Pesantren Nurul Hadi, Pondok Pesantren Hajar Aswad Gunungkidul, Pondok Pesantren Fadlun Minalloh Bantul, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, Pondok Pesantren Nurul Muttaqin Purworejo, Pondok Pesantren An Nur Bantul, dan Pondok Pesantren Al Munir Magelang. Jumlah peserta dari masing-masing pesantren adalah sebanyak lima orang.

Dalam menyukseskan programnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggandeng Duta Santri Nasional sebagai mitranya. Duta Santri Nasional berperan sebagai penghubung antara kementerian dengan pondok pesantren yang menjadi peserta dalam kegiatan ini.

Sejumlah 50 santri dari berbagai pondok pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya aktif mengikuti pelatihan yang berlangsung selama empat hari ini. Mereka dibimbing oleh para mentor digital dan teknologi, serta dibekali dengan pengetahuan dalam bidang pemasaran digital, pengembangan aplikasi, manajemen e-commerce, dan strategi branding.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahudin Uno, melakukan visitasi kegiatan santri digitalpreneur pada Jumat (19/7/2024). Dalam kunjungannya, Menteri Sandiaga disambut oleh KH Za’ranudin, Dr. KH. Irwan Masduqi, dan KH. Noor Hamid selaku dewan pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyyah, beserta para pengurus pesantren dan sejumlah santri yang aktif dalam bidang digitalpreneurship. Menteri Sandiaga berkesempatan untuk melihat langsung sejumlah pameran produk UMKM dari para peserta pelatihan santri digitalpreneur ini dan ditemani oleh Duta Santri Nasional yang membantu memperkenalkan dan menjelaskan setiap produk yang dipamerkan.

Keunikan kegiatan Santri Digitalpreneur di Yogyakarta dan di kota lainnya adalah jenis-jenis produk UMKM yang dipamerkan. Di kota lain, kebanyakan pesantren menyajikan produk makanan sebagai produk UMKMnya. Sementara di Yogyakarta, berbagai jenis produk UMKM ditawarkan seperti budidaya tanaman anggrek dari Pondok Pesantren Hajar Aswad Gunungkidul, produk pakaian dan fashion style dari Pondok Pesantren Nurul Hadi Bantul, Pondok Pesantren Al-Munir Magelang, dan Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, bahkan ada yang memamerkan produk berupa jasa desain produk dan mock up yaitu dari Pondok Pesantren Assalafiyyah.

Selain melihat produk-produk UMKM dari tiap pesantren, Menteri Sandiaga juga berdiskusi dengan para santri tentang tantangan dan peluang dalam mengembangkan bisnis digital di era globalisasi saat ini. Dia juga memberikan dorongan kepada para santri untuk terus berinovasi dan menjaga semangat kewirausahaan. Menteri Sandiaga menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas praktik digitalisasi yang sudah berjalan baik di Pondok Pesantren Assalafiyyah yang tidak hanya menciptakan kemudahan-kemudahan dan inovasi namun juga menghasilkan nilai ekonomi.

“Dari pelatihan ini kita harapkan santri-santri ini bisa menjadi pelaku ekonomi kreatif digital yang andal dan mampu menciptakan peluang usaha atau lapangan kerja. Santri bukan semata mengurus fikih tapi juga memastikan sugih”, ungkapnya.

Di hari terkahir, kegiatan ini diisi dengan presentasi video iklan kreatif yang dibuat oleh tiap kelompok pesantren. Dari presentasi tersebut diambil satu kelompok sebagai pemenang dan berhak mendapatkan satu set alat studio dan berkesempatan untuk bertemu dengan sembilan kelompok terbaik dari berbagai daerah di Indonesia untuk berkompetisi kembali di Jakarta. Pesantren An-Nawawi Berjan dengan produk andalannya, li scarf, terpilih sebagai kelompok terbaik dalam kegiatan Santri Digitalpreneur kali ini. Penilaian ini diambil dari hasil karya video iklan kreatif dan presentasi produk UMKM dari masing-masing pesantren.

Kegiatan Santri Digitalpreneur di Yogyakarta ditutup oleh Iman Santosa sebagai Direktur Aplikasi, Permainan, Televisi, dan Radio. Ia berharap agar para santri selain memiliki daya saing juga dapat memiliki daya tahan. “Terkadang banyak yang mampu bersaing tapi tidak bertahan”, ungkapnya. (Ajeng/KIM DSN Sardonoharjo)