Jejak Daun di Atas Kain: Kreativitas Ibu-Ibu Drono Angkat Nilai Ekonomi Lewat Batik Ecoprint
- Feb 12, 2026
- Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK
SLEMAN - Kreativitas perempuan desa kembali menunjukkan daya hidupnya. Sepuluh ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Manunggal Roso 5758 Drono, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengembangkan usaha batik ecoprint yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Batik ecoprint merupakan inovasi dalam dunia tekstil yang memadukan seni, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap alam. Berbeda dengan batik tulis atau cap yang menggunakan malam (lilin) serta pewarna sintetis, ecoprint memanfaatkan dedaunan, bunga, batang, dan berbagai bahan alami sebagai sumber motif sekaligus warna. Hasilnya adalah lembaran kain dengan jejak alami yang unik—tak pernah sama antara satu karya dengan lainnya.
Ketua KWT Manunggal Roso 5758, Sri Murnaningsih, mengatakan pengembangan ecoprint berawal dari pelatihan yang menghadirkan narasumber dari Batik Yunico Ecoprint. Dari pelatihan tersebut, para anggota mulai memahami teknik dasar hingga proses fiksasi warna alami.
“Daun-daun yang dipilih tidak sembarang daun, tetapi yang memiliki motif kuat dan bisa memunculkan warna. Di antaranya daun jati, jarak kepyar, lanang, pakis, pepaya Jepang, ketela, kenikir, jambu biji, dan lainnya,” ujar Sri, Kamis (12/2/2026).
Dalam proses produksi, daun disusun rapi di atas kain sebelum melalui tahapan penggulungan, pengukusan, hingga pengeringan. Kain yang digunakan adalah kain primisima sebagai bahan utama serta kain blangket. Setiap proses dikerjakan dengan ketelatenan agar motif dan warna alami dapat keluar secara maksimal.
Kini, para ibu kreatif tersebut rutin berkumpul di rumah produksi yang berlokasi di Drono RT 3 RW 33 Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Dari tempat sederhana itu, lahir karya-karya tekstil bernuansa alam yang dipasarkan secara daring maupun melalui bazar, termasuk di Pasar Bela Negara Sleman setiap Jumat pagi.
Harga batik ecoprint produksi KWT Manunggal Roso 5758 berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp350 ribu, tergantung warna dan motif yang dihasilkan. Meski diproduksi secara rumahan, kualitasnya tak kalah dengan produk profesional karena dikerjakan dengan standar dan proses yang terjaga.
Bagi para anggota KWT, batik ecoprint bukan sekadar usaha tambahan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pemberdayaan perempuan sekaligus gerakan kreatif yang mengembalikan manusia pada akar alamnya. Dalam setiap helai kain, tersimpan pesan bahwa keindahan bisa lahir tanpa merusak bumi—sebuah harmoni antara seni, ekonomi, dan kelestarian lingkungan.