GELAR BUDAYA NGAGLIK DALAM RANGKA HARI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA
- Sep 08, 2025
- Saviera Ajeng
- Daerah
Sleman– Masyarakat Ngaglik, Sleman, berbondong bondong memadati Lapangan Sardonoharjo pada Minggu (7/9/2025) untuk merayakan Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam acara Gelar Budaya. Acara ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya yang ada, sekaligus menjadi pengingat akan status istimewa yang dimiliki Yogyakarta.
Hari Keistimewaan DIY, yang diperingati setiap 31 Agustus, adalah pengakuan atas peran sentral Yogyakarta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keistimewaan ini diberikan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas komitmen Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang dengan sukarela menyatakan diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak awal kemerdekaan. Status istimewa ini, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, mencakup lima kewenangan khusus, salah satunya adalah kebudayaan.
Panewu Kapanewon Ngaglik, Wawan Widiantoro, S.I.P., MPA, membuka acara secara simbolis dengan memukul gong. Dalam sambutannya, ia menekankan betapa pentingnya menjaga dan melestarikan budaya sebagai identitas bangsa.
"Budaya adalah jati diri kita, fondasi yang kokoh bagi masa depan. Apa yang kita lihat hari ini, mulai dari Jathilan hingga Kethoprak, adalah cerminan dari semangat luhur masyarakat Ngaglik. Ini adalah bukti nyata bahwa kebudayaan kita tidak hanya hidup, tetapi juga terus tumbuh dan berkembang," ujar Wawan dengan penuh semangat.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus berkontribusi dalam melestarikan budaya. Ia juga turut memberikan Apresiasi saya setinggi-tingginya kepada seluruh seniman, pelaku budaya, dan masyarakat Ngaglik yang telah menunjukkan kecintaan luar biasa pada warisan.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelaku ekonomi lokal, Wawan juga membagikan banyak kupon jajan gratis yang dapat digunakan di berbagai stan UMKM yang berpartisipasi.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk *Panewu Anom, **Danramil, **Kapolsek Ngaglik, **Lurah se-Kapanewon*, serta para perangkat desa dan tamu undangan.
Gelar Budaya Ngaglik diawali dengan pembukaan resmi dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan *Indonesia Raya*. Setelah sambutan dari Panewu Ngaglik, panggung seni dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan.
Penampilan seni pertama adalah Jathilan dari SDN Karangmloko, yang memukau penonton dengan gerakan energik. Pertunjukan ini dilanjutkan dengan Jathilan dari Tambak Rejo dan Lojajar. Sebagai puncak acara, penonton disuguhkan pertunjukan Kethoprak kolaborasi dengan Padukuhan Gondangan Sardonoharjo yang membawakan lakon Worodilah Edan mulai pukul 20.00 hingga selesai, menutup malam dengan tawa dan decak kagum.
Selain pertunjukan seni, Gelar Budaya Ngaglik juga menjadi wadah bagi pelaku *UMKM* dari berbagai kalurahan di Kapanewon Ngaglik. Stan-stan UMKM dari *Sariharjo, Sardonoharjo, Sinduharjo, Sukoharjo, Donoharjo, dan Minomartani* ramai dikunjungi oleh masyarakat yang antusias mencicipi berbagai kuliner dan membeli produk lokal.
Gelar Budaya Ngaglik ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga dalam menjaga serta memajukan budaya dan ekonomi lokal.
(Saviera Ajeng - KIM Ngaglik)