Gali Potensi Literasi Lewat Menu Sehari-hari, Ibu-ibu di Tempursari Pecah Kebekuan Berbicara

  • Aug 27, 2025
  • Andy Ahmad AZ
  • Daerah

TEMPURSARI – Suasana pertemuan rutin ibu-ibu RT 01 RW 27 Tempursari pada Sabtu malam, 19 Juli lalu, terasa berbeda dari biasanya. Bertempat di kediaman Ibu Kasmirah, agenda yang biasanya diisi arisan dan pembahasan program RT kali ini diperkaya dengan sesi inspiratif bertajuk "Menumbuhkan Budaya Literasi" yang berhasil mengajak seluruh anggota untuk aktif berinteraksi.

Melalui sebuah permainan sederhana, Elisabeth Panti selaku narasumber, mengubah topik masakan sehari-hari menjadi media untuk menggali potensi literasi warga. Ia menunjuk lima orang peserta—Ibu Hanif, Ibu Tatik, Ibu Sari, Ibu Surtinem, dan Ibu Supartirah—untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan, “Ibu masak sayur apa hari ini?”

Jawaban yang beragam, mulai dari sayur lembayung, oseng pepaya, membeli tumis buncis, hingga mi instan, menjadi pemicu diskusi yang hangat. Dari jawaban tersebut, Elisabeth memancing interaksi dengan pertanyaan lanjutan seperti, "Bagaimana cara memasak sayur lembayung?" atau "Berapa harga tumis buncis yang dibeli dan di mana?"

Metode yang sederhana dan dekat dengan keseharian ini terbukti efektif. Para peserta, termasuk mereka yang biasanya pendiam, dengan antusias ikut bercerita dan berbagi pengalaman. Sesi ini berhasil membuktikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berbicara di depan forum jika diberi stimulus yang tepat dan dibiasakan.

"Dari permainan ini, kita belajar bahwa setiap orang bisa berbicara. Ini hanya soal pembiasaan," jelas Elisabeth di hadapan para peserta. "Ibu-ibu di sini memiliki potensi besar untuk mengembangkan budaya literasi melalui kemampuan menulis, membaca, dan yang terpenting, berbicara."

Lebih lanjut, Elisabeth menekankan bahwa literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis. "Literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami informasi secara utuh, kemudian menyampaikannya kembali dengan bijak tanpa menambah atau mengurangi esensinya," terangnya.

Ia memberikan contoh sederhana mengenai pentingnya akurasi informasi. "Jika kita menerima informasi bahwa Ibu A membeli sayur buncis seharga Rp9.000, kita tidak boleh menyampaikannya kembali sebagai 'Ibu A membeli sayur buncis pedas'. Penambahan satu kata saja sudah mengubah makna dan dapat menimbulkan kesalahpahaman. Inilah inti dari literasi dalam menjaga keharmonisan sosial," tambahnya.

Selain memperkuat hubungan sosial, kegiatan literasi sederhana ini juga diyakini membawa manfaat kognitif, salah satunya sebagai upaya memperlambat "laju" kepikunan. Aktivitas otak yang dirangsang untuk memahami dan mengolah informasi dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan, yang merupakan pemicu umum penurunan fungsi kognitif.

Elisabeth berharap, semangat berbagi ilmu seperti ini dapat terus menjiwai pertemuan rutin warga. "Semoga pertemuan rutin ini selalu menjadi ruang untuk belajar dan berdaya bersama, membawa manfaat dan inspirasi bagi semua anggotanya," tutupnya.