Bumkal BOS Sardonoharjo Gelar Muskal LPJ 2025, Program Ketahanan Pangan Jadi Sorotan

  • Mar 17, 2026
  • Andy Ahmad - KIM DSN NGAGLIK

SLEMAN - Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal) Oerip Soemohardjo (BOS) Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar Musyawarah Kalurahan (Muskal) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tahun 2025, Selasa (10/3/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kalurahan Sardonoharjo tersebut dihadiri unsur Muspika, pamong kalurahan, lembaga kalurahan, serta pendamping desa.

Muskal digelar sebagai forum pertanggungjawaban pengelolaan Bumkal kepada masyarakat sekaligus evaluasi terhadap program usaha yang telah dijalankan selama satu tahun terakhir.

Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus BOS yang dinilai mampu menjaga eksistensi lembaga sekaligus mengembangkan berbagai program usaha yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut Harjuno, Bumkal BOS saat ini bahkan kerap menjadi tujuan kunjungan belajar dari berbagai daerah yang ingin mempelajari pengelolaan usaha desa.

“BOS dalam kondisi seperti ini masih bisa eksis bahkan menjadi rujukan banyak daerah untuk belajar. Ini menunjukkan pengelolaannya berjalan baik,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung berbagai program yang dijalankan BOS, antara lain Halo Bumdes Niaga, Halo Bumdes Home Care, dan Halo Bumdes Farm, yang diharapkan mampu memperkuat perekonomian kalurahan.

Sementara itu, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Ekowati, mengatakan bahwa pengelolaan Bumkal perlu terus mengedepankan prinsip profesional, akuntabel, dan partisipatif agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Ia menyebutkan, berdasarkan pemeringkatan Bumkal di Kabupaten Sleman, BOS telah masuk kategori “maju”, yang menandakan kelembagaannya dinilai lebih unggul dibandingkan sebagian besar Bumkal lainnya di Sleman.

Direktur BOS Cahyo Binarto memaparkan sejumlah program yang dijalankan untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat. Program tersebut meliputi usaha tematik ayam kampung, usaha ayam petelur yang dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT), budidaya ikan, hingga dukungan permodalan bagi petani.

Menurut Cahyo, pengembangan usaha tersebut dilakukan secara bertahap mulai dari persiapan infrastruktur hingga penguatan rantai produksi, seperti produksi telur ayam kampung, DOC (day old chick), pakan ayam, serta suplemen ternak.

Selain fokus pada usaha produktif, BOS juga mendorong kolaborasi usaha antara Bumkal dengan masyarakat, termasuk kerja sama dengan kelompok tani maupun komunitas lokal.

Secara kualitatif, berbagai program tersebut dinilai telah memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama bagi petani, peternak, dan pelaku usaha perikanan di Sardonoharjo.

Seiring berkembangnya program tersebut, Kalurahan Sardonoharjo juga mulai dikenal sebagai lokasi studi tiru program ketahanan pangan desa. Sejumlah pemerintah desa, Bumdes, maupun lembaga dari berbagai daerah di Jawa maupun luar Jawa telah melakukan kunjungan belajar.

Selain itu, kegiatan wisata edukasi juga mulai berkembang, seperti pelatihan ternak ayam, budidaya melon hidroponik, pelatihan ternak unggas, hingga ternak kambing.

Musyawarah Kalurahan ditutup dengan penyampaian tanggapan dari para peserta serta penandatanganan berita acara sebagai bentuk kesepakatan atas laporan pertanggungjawaban yang disampaikan.